Kampung ini berada di Desa Ciroyom, Kec. Cikelet, Garut, Jawa Barat.
Kehidupan yang ada dikampung ini sangatlah sederhana baik dalam segi
bangunan rumah adat, pakaian, sampai bahasa dan prilaku tingkah pola
masyarakatnya. Jika anda akan berkunjung ke kampung ini kita perlu
mengetahui pantangan-pantangan yang ada di kampung dukuh, seperti antara
laki-laki dan perempuan tidak boleh terlalu dekat, tidak boleh bicara
ketika sedang makan, tidak boleh menyelonjorkan kaki kea rah utara,
harus memakai baju polos (tidak boleh bercorak atau bergambar) ketika
berziarah, dan tidak boleh menggunakan peralatan elektronik.
Kampung Dukuh merupakan salah satu perkampungan tradisional (kampung
adat) yang masih menganut kepercayaan nenek moyang, masyarakat masih
mematuhi Kasuaran Karuhun ( Tabu/Nasihat Leluhur)
Keunikannya adalah keseragaman struktur dan bentuk arsitektur
bangunan pemukiman msyarakat. Terdiri beberapa puluh rumah yang tersusun
pada kemiringan tanah yang bertingkat. Setiap tingkatan terdapat
sederetan rumah yang membujur dari Barat ke Timur. Upacara Moros salah
satu manisfestasi masyarakat Kampung Dukuh yaitu memberikan hasil
pertanian kepada pemerintah menjelang Idul Fitri dan Idul Adha. Ciri
khas lainnya tidak terpengaruh/tergoyahkan oleh kemajuan zaman,
seolah-olah tidak mengenal perkembangan ilmu dan teknologi.
Kampung Dukuh merupakan area pedesaan dengan pola budaya religi yang
kuat. Masyarakat Kampung Dukuh mempunyai cara pandang hidup yang
berlandas pada sufisme dengan berpedoman pada Mazhab Imam Syafii.
Landasan budaya tersebut berpengaruh pada bentukan fisik pedesaan
tersebut dan adat istiadat masyarakat Kampung Dukuh. Kampung Dukuh
sangat menjunjung keharmonisan dan keselarasan hidup bermasyarakat..
Idealisme itu berpengaruh kepada bentukan bangunan di Kampung Dukuh yang
tidak membolehkan penggunaan dinding dari tembok dan atap dari genteng
serta jendela dari kaca. Hal ini dilandasi alas an bahwa hal yang
bersifat kemewahan akan mengakibatkan suatu sistem masyarakat menjadi
tidak harmonis. Di Kampung Dukuh juga tidak diperkenankan adanya
prasarana listrik dan pemasangan televisi serta radio yang dipercaya
selain mendatangkan manfaat yang banyak juga mendatangkan kemudaratan
yang tinggi juga. Alat makan yang digunakan juga terbuat dari pepohonan
seperti khalayaknya bangunan, seperti bambu batok kelapa dan kayu
lainnya. Material tersebut dipercaya lebih memberikan manfaat ekonomis
dan kesehatan karena bahan tersebut tidak mudah hancur/ pecah dan dapat
menyerap kotoran.
Luas keseluruhan Kampung Dukuh seluas 10 hektar yang tediri dari 7
hektar bagian dari Kampung Dukuh Luar, 1 hektar bagian dari Kampung
Dukuh Dalam dan sisanya merupakan lahan kosong atau lahan produksi. Di
dalam Kampung Dukuh juga terdapat area yang disebut dengan wilayah
Karomah yang merupakan tempat dimana Makam Syekh Abdul Jalil. Di dalam
kawasan Kampung Dukuh terdapat 42 rumah dan bangunan Mesjid. Dengan 40
Kepala keluarga serta jumlah penduduk 172 orang untuk Kampung Dukuh
Dalam dan 70 kepala keluarga untuk Kampung Dukuh Luar. Mata pencaharian
utama adalah bertani, beternak ayam, bebek, kambing, domba, kerbau,
memelihara ikan dan usaha penggilingan padi.
Pola budaya juga berpengaruh pada aspek non fisik seperti ritual budaya, antara lain :
-Ngahaturan tuang merupakan kegiatan yang dilakukan masyarakat
Kampung Dukuh atau pengunjung yang berasal dari luar apabila memiliki
keinginan-keinginan tertentu seperti kelancaran dalam usaha, perkawinan,
jodoh, dengan memberikan bahan makanan seperti garam, kelapa, telur
ayam, kambing atau lainnya sesuai kemampuan.
-Nyanggakeun merupakan suatu kegiatan penyerahan sebagian hasil
pertanian kepada kuncen untuk diberkahi. Masyarakat tidak diperbolehkan
memakan hasil panennya sebelum melakukan kegiatan Nyanggakeun.
-Tilu Waktos merupakan ritual yang dilakukan oleh kuncen yaitu
dengan membawa makanan ke dalam Bumi Alit atau Bumi Lebet untuk tawasul.
Kuncen membawa sebagian makanan ke Bumi Allit lalu berdoa. Biasa
dilakukan pada hari raya 1 Syawal, 10 Rayagung, 12 Maulud, 10 Muharam.
-Manuja adalah penyerahan bahan makanan dari hasil bumi kepada
Kuncen untuk diberkati pada hari raya Idul Fitri dan Idul Adha untuk
maksud perayaan.
-Moros merupakan kebiasaan untuk menyerahkan hasil-hasil bumi yang dimiliki kepada aparat pemerintah seperti lurah dan camat.
-Cebor Opat Puluh adalah mandi dengan empat puluh kali siraman
dengan air dari pancuran dan dicampur dengan air khusus yang telah
diberi doa-doa pada jamban umum.
-Jaroh merupakan siuatu bentuk aktivitas berziarah ke makam Syekh
Abdul Jalil. Tetapi sebelumnya harus melakukan mandi cebor opat puluh
dan mengambil air wudhu serta menanggalkan semua perhiasan serta
menggunakan pakaian yang tidak bercorak.
-Shawalatan dilakukan pada hari Jumat di rumah kuncen. Shalawatan Karmilah sejumlah 4444 yang dihitung dengan menggunakan batu.
-Sebelasan dilakukan setiap tanggal 11 dalam perhitungan bulan Islam dengan membaca Marekah.
-Terbang Gembrung merupakan kegiatan yang dilakukan pada tanggal 12 Maulud yang dilakukan para orang tua Kampung Dukuh.
-Terbang Sejak merupakan suatu pertunjukan pada saat perayaan
seperti khitanan dan pernikahan. Pertunjukkan terbang sejak ini
merupakan pertunjukan debus.
Terdapat juga hari-hari penting dan hari besar Kampung Dukuh, seperti :
-10 Muharam
-12 Maulud
-27 Rajab
-1 Syawal
-1 Syawal Idul Fitri
-10 Rayagung
Hari-hari penting :
-Hari Sabtu (Pelaksanaan Ziarah)
-Rebo Welasan (Hari terakhir pada bulan Sapar dimana semua sumber
air yang digunakan oleh masyarakat diberi jimat sebagai penolak baladan,
biasanya diwajibkan mandi)
-14 Maulud (Pada hari ini dipercaya adalah hari yang paling baik
untuk menguji dan mencari ilmu kepada para guru dengan melakukan cebor
opat puluh).
30 Bewah (menyiapkan puasa di bulan Ramadhan)